Langsung ke konten utama

Sweetest Story Ever Written

Kopi itu pahit. Dan romantismu itu seperti kopi. Iya, hanya orang-orang yang memahaminya yang bisa merasakan manisnya. Ya, seperti itu lah kamu.

Kamu, pangeran yang bahkan tidak pernah terbayangkan olehku bagaimana kita bisa saling bertemu. Kamu, orang yang membuat diriku terus mengulang alur dari pengenalan hingga alur kita di saat ini. Kamu, orang yang mengajariku untuk bersabar melihat klimaks dari cerita kita bersama-sama hingga bagaimana akhir dari cerita ini nanti akan ditulis. Kamu... yang berhasil menyita seluruh kekaguman yang pernah aku berikan pada orang lain sebelummu. Kamu... yang pada akhirnya membuatku percaya jika masih ada pangeran baik-baik yang akan menghargai seorang putri  setulus ia menghargai ratunya, ibunya. Tidak seperti kebanyakan yang hanya datang  di saat manis dan pergi di kala bosan. Tapi kamu... mampu mengubah semua pandanganku tentang itu. Kamu yang berani memberi keputusan tapi tidak di atas janji. Kamu yang menyadarkanku bagaimana indahnya rasa suci yang seharusnya tidak tercemar untuk hal yang menyakitkan hati. Kamu yang membuatku berkali-kali mengucapkan ribuan syukurku pada-Nya, pada penulis skenario terbaik dalam perjalanan ini. Syukurku atas dipertemukannya aku, seseorang yang penuh salah dan dosa ini, pada sosokmu yang luar biasa berani berjalan di kebenaran di tengah hiruk pikuknya dosa. Kamu, yang setiap malam menjadi pemanis diantara impian-impian yang selalu aku impikan. Kamu, yang aku ingin berada di klimaks bersamaku, bersama menjalani cerita yang begitu indahnya tertulis. Kamu, yang selalu aku doakan agar namamu tertulis dalam Lauhul Mahfudz bersanding dengan namaku. Kamu, yang selalu aku doakan agar menjadi karakter utama yang mendampingiku mengukir kisah sempurna yang telah tertulis oleh-Nya.

Kamu, yang tidak hanya berhasil merebut hatiku, tapi juga berhasil merebut hati dua malaikatku. Kamu, yang masih selalu aku doakan.

Cerita ini memang masih belum jelas kelanjutanya. Tidak pernah ada yang tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan aku masih membiarkan misteri dalam cerita ini agar tersimpan di dalam alur yang telah ditentukan oleh-Nya. Tugasku adalah untuk memantaskan diri untuk alur cerita terindah. Juga memantaskan diri untuk sebaik-baiknya teman hidup.

Dear kamu, 
Tetaplah menjadi pangeran terbaik, menjadi karakter utama yang bisa dibanggakan oleh Pemilik Cerita. Dan...

Dear girls,
Ingatlah selalu, dirimu bergarga lebih dari apa pun. Jangan pernah menyia-nyiakan hatimu untuk dihancurkan oleh tangan yang tidak pantas. Jangan pernah lupa, Pemilik Cerita mencintaimu lebih dari apa pun. Dan skenario terindah hanya akan nyata terjadi kalau kamu tidak bandel ;)

Entah, aku tidak tau sudah cukup dewasakah aku untuk menulis ini? Kalau memang terlalu dini, yang pasti aku bersyukur karena alur ini terjadi padaku di usiaku saat ini ;)

Maha Suci Allah atas segala nikmat yang diberikan-Nya pada hamba-Nya 🙏

Postingan populer dari blog ini

Korea? Why do I love it?

Assalamualaikum, Good morning guys, Morning? Ya, well ini dini hari sebenernya. Dan aku punya banyak pikiran yang tiba-tiba muncul. Bukan hal yang terlalu penting mungkin, pasalnya topik postingan kali ini yaitu mengenai hobi, kesukaan, dan hal yang selama ini buat aku keliatan “tergila-gila”. Tentang apa? Well, it’s about K-POP! Ya, K-POP. Jadi, suatu waktu ada seseorang yang tanya, “kamu kenapa suka Korea?”. Jujur, waktu itu rasanya aku nggak bisa ngomong apa-apa. Rasanya semua alasan yang selama ini aku simpan tersembunyi dibalik gugupnya aku akan pertanyaan itu (haha, alay kan, ya ini sih gara-gara yang nanya bukan orang biasa wkwk). Kenapa? Karena apa? Karena mereka ganteng? Karena oppa-oppa keren sangat? Ya, ini mungkin salah satu alasannya. Tapi percayalah, tampilan luar cuma bisa menarik sebentar aja. Mereka keren? Ya, mereka keren. Lebih keren dari apa yang ada di wajah mereka. Salah satu yang aku kagumi dari Korea adalah mereka serius mengembangkan bakat anak-anak remaja…

Dia Bukan Bulan

Dulu aku pikir dia bulan. Ternyata bukan. Dia hanya bias cahaya yang akan pergi menghilang ketika aku mematikan flashku.

Karena bulan bulan tidak akan pernah pergi, jadi kamu bukan bulan.

Aku rasa aku sudah menyia-nyiakan waktuku untuk sebuah bias.

Tapi, aku tidak menyesal. Karena pada akhirnya aku tahu, tidak semua rasa yang menggebu-gebu itu kau butuhkan.

Pada akhirnya, setelah kamu begitu, aku jadi sadar akan banyak tanda.

Pada akhirnya juga aku sadar, air mataku yang pernah jatuh bukan sepenuhnya karenamu atau untukmu.

Penghakimanku terhadap diriku sendiri, pemaksaanku terhadap hatiku sendiri, dan ambisiku untuk menghilangkan trauma -semua kekhilafan yang pernah aku lakukan dulu- aku baru sadar jika air mataku jatuh karena hal-hal itu.

Sekarang, tidak akan seperti itu lagi. The past is in the past. Good bye!

Kita mungkin akan bertemu lagi, tapi hatiku dan caraku memandangmu tidak akan pernah sama seperti dulu. Jadi, Good Bye!