Langsung ke konten utama

Epic Dream

Mimpi. Mereka bilang, jika kau bermimpi tentang seseorang, maka jiwamu sedang bertemu dengan jiwa seseorang yang kau mimpikan. Sebagian lainnya mengatakan, jika kau memimpikan seseorang, itu pertanda seseorang yang kau mimpikan itu sedang memikirkanmu sebelum ia terlelap.

Banyak sekali yang mereka katakan tentang mimpi. Bermimpi dan dimimpikan. Bagiku, mimpi adalah sebuah perjalanan bersejarah yang tidak pernah bisa aku ungkapkan secara menyeluruh. Tidak bisa aku siratkan maksudnya meskipun aku berkata secara gamblang. Bagiku, cerita-cerita itu tetap terkubur dalam bersama perasaanku, meskipun aku telah membaginya. 

Mimpi seolah menjadi jejak, menjadi potongan-potongan kisah kita yang belum pernah terwujud. Belum. Dan aku tidak pernah tau, mungkinkah ini akan terwujud? Mungkinkah? Sedang kita terpisah jarak bermil-mil jauhnya. Terpisah rentang waktu yang juga mendukung jarak pisah kita. Juga, Haru, semua seolah mendukung jarak yang entah jauh, entah sangat dekat.

Mimpi. Bagaimana kita bisa bertemu? Jika, seandainya yang memipikanmu bukan hanya aku? Bagaimana bisa kau memikirkanku sebelum tidurmu? Sedangkan hanya aku yang mengenalmu. 

Aku bersyukur, jika seandainya jiwa kita memang betul-betul bertemu. Aku tidak peduli meskipun hanya alam bawah sadar kita.

Masi, dengan senyummu itu kau tiba-tiba muncul di tengah keramaian orang yang berbahagia menuju impian mereka masing-masing. Di tengah keramaian itu, kau mewujudkan impian yang baru saja aku ucapkan dengan tulus. Percayalah, kau datang mewujudkan impian itu. Itulah saat kau pertama kali mengunjungi jiwaku, dengan membawa impian itu datang padaku. 

Belum selesai senangku, Haru, kau datang menyusul Masi. Bersama dengan Silver, sahabat karibmu. Entah kali keberapa kau mengunjungiku. Kau juga membawa impian yang aku ucapkan dengan tulus itu.

Aku meminta pada kalian, pada selembar kertas yang bahkan belum aku siapkan karena kalian datang begitu tiba-tiba, sebuah seni sederhana dengan pena bertinta hitam. Hanya sebuah seni sederhana yang aku minta, Haru. Tapi, kalian memberikan lebih dari yang aku minta. 

Aku bahagia. Aku baca seni itu. Di dalamnya kau menuliskan sebuah nasihat. Nasihat bermakna dalam. Aku tau itu, Haru. Aku sudah mengingatkan diriku untuk itu.

Haru, banyak manusia yang menuliskan naskah yang begitu indahnya, begitu manis, dan begitu menyejukkan seperti hujan yang kita sukai. Aku salah satu diantara mereka. Sudah kutulis naskah kita.

Tapi, Haru, jika tulisan naskah manusia tidak begitu indah bagimu, aku yakin langit telah menuliskan naskah yang begitu indah. Jika kau tidak percaya pada tulisan naskah manusia, atau tulisan naskah yang aku buat, aku percaya pada naskah langit, Haru. Aku yakin. Aku tau kau juga. Aku tau itu sebab kau tidak terlalu percaya pada naskah manusia karena langit dan manusia sangat jarang sekali sama.

Aku percaya, Haru. Jika naskah yang aku tulis itu menyakitiku, maka langit punya sejuta rahasia naskah-naskah yang jauh lebih indah untukku.

Jangan khawatirkan aku, Haru. Jalani saja kehidupanmu. Tetap dan selalu berbahagialah. Jalani naskah yang sudah, akan, dan sedang tertulis untukmu. Aku sudah bahagia, Haru, dengan naskahku yang seperti ini. 

Mimpi itu, aku tidak yakin siapa yang menulisnya. Aku ataukah langit? Tapi, Haru, berulang kali aku menuliskan naskahku untuk mimpi itu, namun naskah yang aku tulis tidak berfungsi. Sampai langit yang menuliskannya dan terjadi pada kita.

Tetaplah bahagia, Haru. Sampaikan salamku pada Masi dan Silver. Dua kakakku tersayang yang ikut bersamamu dalam mimpiku semalam.

-Regards-

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yak, aku nulis apa seh? Entahlah, maapkeun ayas, readers. Selamat menikmati naskahku 😅😅😅 ~kkkkk


Pos populer dari blog ini

Hujan

Hujan. Ini bukan tentang apa yang kamu suka, bukan juga tentang apa yang aku suka.  Tapi, ini ini tentang apa yang kita suka. Hujan. Kau tau? Aku tidak membenci hujan, meski hujan membuatku basah kuyub. Aku tidak juga membenci hujan, meski kadang kedatangannya bersama petir yang aku takuti.
Aku menyukai hujan jauh sebelum aku mengenalmu. Bagiku, hujan itu seperti rintikkan semangat yang turun untuk terkabulnya harapan dan cita-citaku. Ya, semangatku bukan teriknya matahari. Tapi, hujan yang turun dengan damainya ke tanah atau jalanan yang aku tapaki.
Aku masih menyukai hujan hingga aku mengenalmu dan perlahan memahami.  Perlahan paham jika hujan juga sudah merebut tempat di hatimu.
Aku tidak tau tentang apa yang membuatmu menyukai hujan.  Aku tidak tau tentang apa yang kau sukai dari hujan.  Aku masih tidak tau tentang 'hujan dan kamu'.
Aku tidak pernah membenci hujan. Sejak saat itu. Sejak aku pertama kali jatuh cinta pada gelapnya awan. Tetap tidak, saat aku mengenalmu. Dan …

Sweetest Story Ever Written

Kopi itu pahit. Dan romantismu itu seperti kopi. Iya, hanya orang-orang yang memahaminya yang bisa merasakan manisnya. Ya, seperti itu lah kamu.

Kamu, pangeran yang bahkan tidak pernah terbayangkan olehku bagaimana kita bisa saling bertemu. Kamu, orang yang membuat diriku terus mengulang alur dari pengenalan hingga alur kita di saat ini. Kamu, orang yang mengajariku untuk bersabar melihat klimaks dari cerita kita bersama-sama hingga bagaimana akhir dari cerita ini nanti akan ditulis. Kamu... yang berhasil menyita seluruh kekaguman yang pernah aku berikan pada orang lain sebelummu. Kamu... yang pada akhirnya membuatku percaya jika masih ada pangeran baik-baik yang akan menghargai seorang putri  setulus ia menghargai ratunya, ibunya. Tidak seperti kebanyakan yang hanya datang  di saat manis dan pergi di kala bosan. Tapi kamu... mampu mengubah semua pandanganku tentang itu. Kamu yang berani memberi keputusan tapi tidak di atas janji. Kamu yang menyadarkanku bagaimana indahnya rasa suci y…