Langsung ke konten utama

Introvert

Hari ini Senin.

Matahari mulai sembunyi bahkan sejak hari mulai menengah. Entah kenapa, mungkinkah matahari masih terlalu lelah di hari Senin ini? Aku tidak tau. Aku tidak bisa memahami matahari yang begitu besar dan begitu hebatnya.

Awan hitam lengkap dengan rintiknya pun dengan senang hati mengisi hari ini. Dari yang kita sebut siang hingga kita sebut malam. Bahkan, bintang-bintang mungil serta purnama pun disembunyikan oleh mereka.

Saat malam, hpku berbunyi. Beberapa pesan masuk dan diantaranya adalah informasi job desk yang harus aku lakukan besok. Pesan itu membawaku pada satu perasaan. Satu beban yang aku rasa selama aku masih menjadi seorang introvert.
Perasaan itu menggangguku. Ingin sekali rasanya aku membuat pagar agar rasa itu tidak pernah masuk. Ingin sekali aku membaginya, tapi seseorang yang ingin aku bagi itu sedang terasa sangat jauh.

Bekerja sama dengan orang baru itu tantangan bagiku. Jangankan bekerja sama, parahnya dulu bertemu saja sudah membuat gugup setengah mati sampai menangis! Jangan tanya kenapa. Ini bagian yang harus aku tanggung sebagai seorang introvert.

Lalu.....
Aku harus bagaimana?

Ingin sekali rasanya aku berubah. Menjadi orang ceria dan mudah sekali akrab. Tapi, bagaimana caranya?

Satu-satunya orang yang mempengaruhiku untuk ceria saat ini tidak di sini. Terhalang oleh jarak dan satu kata yang mau tidak mau harus aku maklumi, kewajiban.

Aku tidak sedang membuat alasan. Tapi setiap orang bisa dengan mudah berubah karena orang lain bukan? Dan orang yang merubahku adalah dia.

Dia yang juga punya hal rumit, tapi bisa membungkusnya dengan indah dalam hatinya. Dia yang juga pendiam, tapi bisa mengakrabkan orang dengan caranya. Dia yang lembut dan tetap lembut, walau dunia menggodanya untuk keras.

Dia dia dia dan dia

Siapa dia? Orang yang bahkan tidak tau aku ada.

Tapi aku butuh.
Butuh dia.

Aku introvert. Dan satu-satunya yang bisa membukaku adalah dia.

Dia, dengan rasa yang sama seperti milikku. Rasa kami sama, hanya satu yang berbeda.

Aku bisa merasakan perbedaan itu, tapi....
Aku tidak pernah tau apa perbedaan itu.

Mungkinkah karena aku yang introvert?

Fin





Maapkeun saya readers,
Yang lama nggak ngisi blog dan tiba2 dateng bawa tulisan nggak jelas hahahahahahaha

Silakan berimajinasi ria tentang arti tulisan itu

Pos populer dari blog ini

Epic Dream

Mimpi. Mereka bilang, jika kau bermimpi tentang seseorang, maka jiwamu sedang bertemu dengan jiwa seseorang yang kau mimpikan. Sebagian lainnya mengatakan, jika kau memimpikan seseorang, itu pertanda seseorang yang kau mimpikan itu sedang memikirkanmu sebelum ia terlelap.

Banyak sekali yang mereka katakan tentang mimpi. Bermimpi dan dimimpikan. Bagiku, mimpi adalah sebuah perjalanan bersejarah yang tidak pernah bisa aku ungkapkan secara menyeluruh. Tidak bisa aku siratkan maksudnya meskipun aku berkata secara gamblang. Bagiku, cerita-cerita itu tetap terkubur dalam bersama perasaanku, meskipun aku telah membaginya. 
Mimpi seolah menjadi jejak, menjadi potongan-potongan kisah kita yang belum pernah terwujud. Belum. Dan aku tidak pernah tau, mungkinkah ini akan terwujud? Mungkinkah? Sedang kita terpisah jarak bermil-mil jauhnya. Terpisah rentang waktu yang juga mendukung jarak pisah kita. Juga, Haru, semua seolah mendukung jarak yang entah jauh, entah sangat dekat.
Mimpi. Bagaimana kita…

Hujan

Hujan. Ini bukan tentang apa yang kamu suka, bukan juga tentang apa yang aku suka.  Tapi, ini ini tentang apa yang kita suka. Hujan. Kau tau? Aku tidak membenci hujan, meski hujan membuatku basah kuyub. Aku tidak juga membenci hujan, meski kadang kedatangannya bersama petir yang aku takuti.
Aku menyukai hujan jauh sebelum aku mengenalmu. Bagiku, hujan itu seperti rintikkan semangat yang turun untuk terkabulnya harapan dan cita-citaku. Ya, semangatku bukan teriknya matahari. Tapi, hujan yang turun dengan damainya ke tanah atau jalanan yang aku tapaki.
Aku masih menyukai hujan hingga aku mengenalmu dan perlahan memahami.  Perlahan paham jika hujan juga sudah merebut tempat di hatimu.
Aku tidak tau tentang apa yang membuatmu menyukai hujan.  Aku tidak tau tentang apa yang kau sukai dari hujan.  Aku masih tidak tau tentang 'hujan dan kamu'.
Aku tidak pernah membenci hujan. Sejak saat itu. Sejak aku pertama kali jatuh cinta pada gelapnya awan. Tetap tidak, saat aku mengenalmu. Dan …

Sweetest Story Ever Written

Kopi itu pahit. Dan romantismu itu seperti kopi. Iya, hanya orang-orang yang memahaminya yang bisa merasakan manisnya. Ya, seperti itu lah kamu.

Kamu, pangeran yang bahkan tidak pernah terbayangkan olehku bagaimana kita bisa saling bertemu. Kamu, orang yang membuat diriku terus mengulang alur dari pengenalan hingga alur kita di saat ini. Kamu, orang yang mengajariku untuk bersabar melihat klimaks dari cerita kita bersama-sama hingga bagaimana akhir dari cerita ini nanti akan ditulis. Kamu... yang berhasil menyita seluruh kekaguman yang pernah aku berikan pada orang lain sebelummu. Kamu... yang pada akhirnya membuatku percaya jika masih ada pangeran baik-baik yang akan menghargai seorang putri  setulus ia menghargai ratunya, ibunya. Tidak seperti kebanyakan yang hanya datang  di saat manis dan pergi di kala bosan. Tapi kamu... mampu mengubah semua pandanganku tentang itu. Kamu yang berani memberi keputusan tapi tidak di atas janji. Kamu yang menyadarkanku bagaimana indahnya rasa suci y…