Langsung ke konten utama

Short Story - FATE



FATE

Ia duduk di pojok. Tampak menghindar dari yang lain. Wajahnya mengekspresikan satu hal yang aku juga pernah merasakannya. Jari-jarinya memetik sinar gitar. Menghasilkan alunan musik yang sendu. Aku memandangnya. Hanya bisa memandangnya. Tidak berani mendekatinya.
Hari ini dia bilang akan pergi dari tempat dia sebelumnya. Dia meminta pendapatku akan hal itu. Aku tidak tau harus menjawab apa.
Temannya datang. Aku masih memerhatikannya dari jauh. Ia mengobrol. Dari sini aku bisa lihat perubahan ekspresinya. Ia mencoba menyembunyikan apa yang ada di dalam. Sebentar, mereka diam. Ia memetik pelan sinar gitarnya. Alunan sendu terdengar sangat lembut. Aku lihat tidak ada percakapan lagi di antara mereka.
“Lit, tolong anterin pesanan ini ke meja 12 ya.” Suara Devi membuatku tersadar.
“Oh, iya.”
Aku mengambil satu cangkir kopi espresso dan kopi esprecielo yang merupakan pesanan dari meja dua belas. Meja paling ujung tempatnya duduk. Aku meletakan dua cangkir kopi yang aku bawa saat sampai di meja dua belas.
“Selamat menikmati.” Ucapku sambil menunduk.
“Terimakasih.” Ujar Raka, teman Alvin –orang yang menjadi pusat perhatianku sejak tadi- sambil tersenyum.
“Makasih ya,” kali ini Alvin sendiri yang berbicara.
“Iya, silakan dinikmati.” Jawabku kemudian pergi ke belakang, ke tempatku semula duduk.
Mereka berdua adalah teman lamaku. Kami berada di satu universitas yang sama. Raka jurusan hukum, Alvin jurusan ekonomi makro, dan aku berada di jurusan manajemen. Aku bekerja part time di cafe’ dekat universitas. Temanku di sini adalah Devi yang juga berasal dari universitas dan jurusan yang sama denganku. Hari ini kebetulan Alvin dan Raka menyempatkan diri duduk di kursi cafe’ tempatku bekerja ini.
Banyak pesanan yang harus dilayani. Fokusku jadi teralihkan. Akan tetapi, satu hal yang aku sadari dia masih di tempatnya. Raka sudah tidak terlihat. Sekarang dia fokus pada tablet PC-nya. Sepertinya pikirannya jauh entah kemana.
Ia masih mendudukan dirinya di tempat yang sama. Padahal jarum jam sudah memilih menunjuk angka sembilan malam yang artinya cafe’ harus segera tutup. Pengunjung satu per satu mulai bergegas, tetapi ia masih tenang di tempatnya.
“Alvin kok belum pulang ya? Tumben betah di sini.” Kata Devi yang juga melihat Alvin masih duduk manis di tempat awal.
“Iya. Mungkin lagi cari suasana baru.” Ucapku asal.
“Atau mungkin dia nunggu kamu.” Aku rasa Devi menjawab lebih asal daripada ucapanku.
“Hahahaha ..” aku tertawa dan bergegas mengganti baju pelayanku. Devi mengikuti dari belakang.
“Gak mungkin lah, Dev. Ngapain dia nunggu aku.” Lanjutku menanggapi.
“Kenapa nggak? Kamu juga udah nunggu dia lama kan, Lit?”
Aku terdiam. Untuk pertama kalinya aku seperti terbangun dari banyak harapan yang aku biarkan menjadi harapan. Devi benar, itu sudah lama, sangat lama.
“Aku duluan ya. Jangan lupa tutup cafe’ atau kamu bisa suruh pelayan yang lain aja. Oh iya, sekalian tuh yang lagi duduk di ujung.” Dengan cepat Devi berlari keluar. Aku hanya mentapnya aneh.
“Kak, Lita, cafe’-nya udah mau tutup. Tapi masih ada yang duduk,” aku beralih ke Vita. Dia juga pelayan di cafe’ ini. Bisa dibilang dia juniorku.
“Ya udah, tutup aja. Bilang baik-baik ke dia kalo cafe’-nya mau tutup.” Ucapku.
“Nggak berani, kak. Tadi Fani udah coba bilang, tapi katanya dia lagi nunggu orang.”
Menunggu seseorang? Siapa lagi yang Alvin tunggu? Ini sudah larut dan tinggal pelayan yang bersiap pulang di cafe’ ini.
“Kakak aja, ya yang ngomong ke dia. Kakak ganti dulu aja.”
“Iya. Nanti kalian tutup cafe’ ya. Kakak sekalian pulang.”
“Iya, kak.”
Aku segera mengganti bajuku dan menghampiri Alvin. Barang-barangnya sudah ia rapikan dan memang sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Dengan canggung, aku mendekatinya.
“Vin, belum pulang?”
“Eh, udah selesai, Lit?”
“Iya, ini mau pulang. Kamu belum pulang?”
“Ini mau pulang juga. Mau bareng?”
Aku anggap ini hanya sebuah kebetulan. Aku memang bersiap pulang dan dia juga. Wajar saja jika ia mengajakku pulang bersama.
“Mmm, ya udah.”
Alvin tidak membawa kendaraan rupanya. Jadi kami berjalan bersama. Jalur menuju rumahku dan Alvin juga sama. Dengan begini, aku bisa menghabiskan waktuku lebih banyak dengannnya. Aku juga bisa memberikan benda itu.
“Langit malem bagus ya,” Alvin lebih dulu memulai pembicaraan.
“Ya, salah satu hal paling aku suka.”
“Oh ya? Kenapa?”
“Seperti katamu tadi, langit malam itu bagus.” Jawabku santai.
“Apa semua hal yang bagus bisa jadi kesukaanmu?”
Benar. Tidak semua hal yang bagus bisa menarik bagiku.
“Emm, tidak. Tidak selalu,”
Alvin mengangguk. Dia terdiam. Hening. Pandangannya lurus ke depan. Ekspresi itu muncul lagi di wajahnya dan aku tidak menyukainya. Aku mencari topik pembicaraan, tetapi aku teringat pada satu benda di tasku. Aku mengeluarkannya. Sebuah toples kecil dengan lima buah kunang-kunang di dalamnya.
“Ini,”
Alvin menghentikan jalannya, aku juga. Dia menatap toples itu. Dia tersenyum lalu mengambilnya.
“Ini untukku?”
“Tentu saja,” jawabku sambil tersenyum.
“Wah, ini indah. Terimakasih.”
Aku membalasnya dengan senyuman.
“Kemarin kakakku baru pulang. Dia ngajak aku ke tempat favoritnya, katanya. Di sana banyak banget kunang-kunang. Aku sama kakak nangkep bareng-bareng, kayak anak kecil, lucu banget.”
“Di mana tempatnya? Kayaknya seru banget.”
“Ah, aku lupa. Kakak yang ngajak aku. Mau ke sana? Besok aku tanyain tempatnya.”
“Iya. Kapan-kapan aja.”
Kami berhenti setelah sampai di depan rumahku. Terdiam sejenak. Aku tersenyum padanya.
“Aku duluan, ya.” Kataku.
“Emm, Lit.”
“Ya?”
“Aku mau pamit.”
Kalimat terakhir ini membuatku mengerutkan alis.
“Pamit?”
“Aku mau ngelanjutin kuliahku di Jepang.”
Kalimat yang lebih akhir lagi membuatku terkejut.
“Kapan, Vin?”
“Besok berangkat.”
Melanjutkan kuliah ke Jepang dan akan berangkat besok. Mataku memanas. Kakiku lemas, tetapi aku menahannya.
“Makasih ya, kunang-kunangnya. Aku mau bawa ini ke Jepang biar jadi temen aku.”
Alvin pergi setelah mengakhiri percakapan. Aku segera masuk ke dalam. Aku tidak bisa tidur. Ini malam terakhirku berada di satu negara yang sama dengannya dan aku belum sempat mengatakan satu hal padanya.
***
2 Tahun kemudian.
Alvin pulang hari ini. Aku menunggunya di Bandara. Setelah ini dia akan terus menetap di Indonesia.
“Hai, Dear.”
Aku membalikkan badanku. Sesorang berbadan tinggi, berjaket biru tersenyum ke arahku. Senang bukan main. Dia Alvin.
“Welcome back, kakak.” Sambutku.
Dua tahun Alvin pergi. Dia selalu pulang setiap kali ia dapat hari libur yang panjang. Libur panjangnya yang terakhir adalah awal bagi kami. Kami berdua.


#latepost #ceritalama

Pos populer dari blog ini

Epic Dream

Mimpi. Mereka bilang, jika kau bermimpi tentang seseorang, maka jiwamu sedang bertemu dengan jiwa seseorang yang kau mimpikan. Sebagian lainnya mengatakan, jika kau memimpikan seseorang, itu pertanda seseorang yang kau mimpikan itu sedang memikirkanmu sebelum ia terlelap.

Banyak sekali yang mereka katakan tentang mimpi. Bermimpi dan dimimpikan. Bagiku, mimpi adalah sebuah perjalanan bersejarah yang tidak pernah bisa aku ungkapkan secara menyeluruh. Tidak bisa aku siratkan maksudnya meskipun aku berkata secara gamblang. Bagiku, cerita-cerita itu tetap terkubur dalam bersama perasaanku, meskipun aku telah membaginya. 
Mimpi seolah menjadi jejak, menjadi potongan-potongan kisah kita yang belum pernah terwujud. Belum. Dan aku tidak pernah tau, mungkinkah ini akan terwujud? Mungkinkah? Sedang kita terpisah jarak bermil-mil jauhnya. Terpisah rentang waktu yang juga mendukung jarak pisah kita. Juga, Haru, semua seolah mendukung jarak yang entah jauh, entah sangat dekat.
Mimpi. Bagaimana kita…

Hujan

Hujan. Ini bukan tentang apa yang kamu suka, bukan juga tentang apa yang aku suka.  Tapi, ini ini tentang apa yang kita suka. Hujan. Kau tau? Aku tidak membenci hujan, meski hujan membuatku basah kuyub. Aku tidak juga membenci hujan, meski kadang kedatangannya bersama petir yang aku takuti.
Aku menyukai hujan jauh sebelum aku mengenalmu. Bagiku, hujan itu seperti rintikkan semangat yang turun untuk terkabulnya harapan dan cita-citaku. Ya, semangatku bukan teriknya matahari. Tapi, hujan yang turun dengan damainya ke tanah atau jalanan yang aku tapaki.
Aku masih menyukai hujan hingga aku mengenalmu dan perlahan memahami.  Perlahan paham jika hujan juga sudah merebut tempat di hatimu.
Aku tidak tau tentang apa yang membuatmu menyukai hujan.  Aku tidak tau tentang apa yang kau sukai dari hujan.  Aku masih tidak tau tentang 'hujan dan kamu'.
Aku tidak pernah membenci hujan. Sejak saat itu. Sejak aku pertama kali jatuh cinta pada gelapnya awan. Tetap tidak, saat aku mengenalmu. Dan …

Sweetest Story Ever Written

Kopi itu pahit. Dan romantismu itu seperti kopi. Iya, hanya orang-orang yang memahaminya yang bisa merasakan manisnya. Ya, seperti itu lah kamu.

Kamu, pangeran yang bahkan tidak pernah terbayangkan olehku bagaimana kita bisa saling bertemu. Kamu, orang yang membuat diriku terus mengulang alur dari pengenalan hingga alur kita di saat ini. Kamu, orang yang mengajariku untuk bersabar melihat klimaks dari cerita kita bersama-sama hingga bagaimana akhir dari cerita ini nanti akan ditulis. Kamu... yang berhasil menyita seluruh kekaguman yang pernah aku berikan pada orang lain sebelummu. Kamu... yang pada akhirnya membuatku percaya jika masih ada pangeran baik-baik yang akan menghargai seorang putri  setulus ia menghargai ratunya, ibunya. Tidak seperti kebanyakan yang hanya datang  di saat manis dan pergi di kala bosan. Tapi kamu... mampu mengubah semua pandanganku tentang itu. Kamu yang berani memberi keputusan tapi tidak di atas janji. Kamu yang menyadarkanku bagaimana indahnya rasa suci y…