Langsung ke konten utama

Harddwch Castor


Harddwch Castor

Cast       :
Cho Kyuhyun
Hwang Ri Young
And other
Genre   :
Fantasy
Author  : Ri Young (Risna) 



“Apa yang kau lakukan, hah?” 
Wajah Hwang Ri Young memerah berusaha menahan amarahnya. Ia marah besar, tetapi tidak ia tidak bisa semarah yang ada dalam hatinya di depan namja itu. Di depan Cho Kyuhyun. 
“Wae, bukankah kau menyukaiku karena ini?” dengan santainya Cho Kyuhyun menjawab.
“Apa? Menyukaimu? Sejak kapan aku menyukaimu? Berhenti bicara yang tidak-tidak.” Hwang Ri Young melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruang kerjanya yang telah dimasuki Kyuhyun tanpa izin. Ruang kerja bermodel klasik dengan dominasi warna gelap. 
Baru satu langkah ia melangkahkan kakinya, tangan Kyuhyun menghalanginya. Hwang Ri Young terdiam. Pria bertubuh tinggi tegap itu pun hanya diam. Hening. 
“Kau .. Bisakah kau berhenti berpura-pura di hadapanku? Bisakah kau memperlakukanku seperti kau memperlakukan yang lainnya? Aku sudah mengetahui semua tentangmu, tidak ada lagi yang perlu kau sembunyikan dariku.” Kyuhyun memulai pembicaraan.
“Apa yang kau ketahui tetangku?” 
Ri Young membalikkan tubuhnya menghadap Kyuhyun, begitupun Kyuhyun yang berbalik menghadap Ri Young. Tatapan keduanya bertemu. Aneh. Ri Young mersakan suhu tubuhnya berubah menjadi dingin. Samar-samar  matanya menangkap cahaya biru tua disekitar tubuhnya. Bagaimana ini bisa terjadi?
Pria di depannya tersenyum tipis. Ekspresi wajahnya tidak bisa dijelaskan. Kedua matanya berubah menjadi biru. 
Hwang Ri Young tertegun. Kakinya melangkah kebelakang. Ia yakin, sekarang matanya juga menjadi biru. Wangi mint menyebar diantara keduanya. Kyuhyun melangkahkan kakinya perlahan mendekat. Ri Young mundur selangkah. Kyuhun melangkahkan kakinya lagi mencoba mendekat, Ri Young pun mundur. Terus seperti itu hingga akhirnya Ri Young terpojok. Kyuhyun tetap melangkahkan kakinya hingga ia berada beberapa senti di depan Ri Young. Jarak mereka sangat dekat. 
Tubuh Kyuhyun perlahan mengeluarkan warna merah. Tatapan matanya tetap menatap mata Ri Young. Warna merah dari tubuhnya menyatu dengan warna biru dari tubuh Ri Young. Sekarang mereka berada dalam cahaya berwarna ungu, campuran dari warna aura keduanya. Bulu putih keluar dari punggung kedua insan itu membentuk sepasang sayap. Kyuhyun yang mengendalikannya.
“Op .. Oppa, apa yang kau lakukan?”wajah Ri Young memucat. Darah segar keluar dari jari manis kirinya. Ia melemas. Ia hampir terjatuh. 
Dengan sigap Kyuhyun mengedipkan matanya. Seketika apa yang terjadi di antara keduanya lenyap. Semua kembali seperti semula. Kyuhyun segera menangkap tubuh Ri Young. Wajahnya berubah khawatir. Darah masih keluar dari tangannya. 
“Mianhae.” Ucap Kyuhyun. 
Ia menuntun Ri Young ke kursinya lalu mengambil kotak P3K di laci meja kerjanya. Ri Young meringis menahan perih. Lukanya melingkari jari manisnya, membentuk sebuah cincin darah segar.
“Biar kulihat.”
Kyuhun meraih tangan Ri Young. Beberapa kerutan heran terbentuk di kening putihnya. Kedua bola matanya berpindah memandang Ri Young yang masih menatap lukanya sambil menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Memang hanya sedikit luka yang terbentuk, tetapi mungkin ini tidak bisa dibilang luka kecil. Rasa perih akan terus ada di jari Ri Young untuk beberapa waktu ke depan. 
“Kenapa kau tidak katakan hal ini padaku?”
“Jika aku mengatakannya di awal, apa oppa peduli? Oppa akan tetap melakukannnya.”
“Bertahanlah.”
“Ne?”
“Aku akan tetap melakukannya sekali lagi, jadi bertahanlah.”
Jari-jari tangan Kyuhyun tergerak mengobati luka Ri Young. Ri Young menatap namja di depannya. Otaknya terus memutar pertanyaan yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Selama ini ia selalu menjaga jarak dengan namja ini dan selalu berpura-pura tidak mengenalnya. 
Cho Kyuhyun dan Hwang Ri Young, mereka seharusnya adalah saudara satu ayah. Mereka saling menyukai. Bumi bukan tempat mereka seharusnya. Hanya saja Ri Young terusir dari dunianya, dunia seharusnya mereka berada, saat Kyuhyun mendapat tugas dari ayahnya untuk pergi ke Canopus. Tidak ada yang melindungi Ri Young saat dirinya ada dalam masalah. Maka terusirlah ia dari dunianya. Ri Young sudah ada di bumi ketika Kyuhyun kembali. Kembali dari perjalanannya yang membutuhkan waktu lama itu. Dan lagi, mereka tidak seharusnya ada di tempat ini. Mereka berbeda dengan manusia biasa. Mereka lebih dari itu. 
“Kenapa kau harus melakukannya sekali lagi?”
Kyuhyun mendongak. Menatap bola mata Ri Young yang sudah kembali menjadi coklat tua. 
“Kita tidak seharusnya berada di sini.”
“Kenapa?”
Kyuhyun selesai mengobati. Ia kembali menatap bola mata Ri Young. Kali ini tatapannya lebih tajam. Ri Young menunduk.
“Kita tidak seharusnya berada di sini.” Ulang Kyuhyun dengan nada penekanan. 
“Kita berbeda dengan mereka.” Lanjut Kyuhyun. 
“Kita sama, oppa.”
“Ya, kita memang sama.”
“Maksudku, kita dan manusia itu.”
“Tidak. Kita lebih dari mereka. Kau mengerti?”
“Tidak. Aku memang mempunyai kemampuan yang lebih dari mereka. Tapi aku selalu melemah saat menggunakan kemampuanku. Aku merasa jika kemampuan itu sama sekali tidak berguna untukku.” 
Ri Young menunduk. Suaranya mengecil pada kalimat terakhir ia berbicara. Cho Kyuhyun menatapnya tajam. Ia sama sekali tidak setuju dengan apa yang dikatakan Ri Young. 
“Kau tidak pernah melatih kemampuanmu. Lalu bagaimana bisa kau menggunakan kemampuanmu secara maksimal, hah!” Kyuhyun membentak membuat Ri Young makin menunduk. Takut. Rasa itu kini mendominasi jantungnya.
Semua yang dikatakan Cho Kyuhyun memang benar. Itulah sebabnya Ri Young ketakutan. Kemampuan yang dimilikinya berbeda dengan makhluk sepertinya yang lain. Ia keturunan terakhir dan ia terpisah dengan saudara satu turunannya. Ri Young, hanya dia yang turun ke bumi. Di dorong dan di hisap kekuatannya oleh kakaknya sendiri, Hwang Shin Ri. 
“Bersiaplah. Aku tidak peduli kau kuat atau tidak, sakit atau tidak, aku akan tetap membawamu kembali.”  Cho Kyuhyun berdiri. Membalikkan badannya dan berjalan selangkah. 
“Kembali? Kemana?” 
Senyum sarkastik terlukis di wajah Cho Kyuhyun. Dia membalikkan badannya. Kembali menghadap Hwang Ri Young. 
“Heh, tinggal di bumi beberapa waktu ternyata mampu membuat otakmu tumpul, Ri Young-si.” Tajam, penuh penekanan. 
Ri Young menemukan sosok lain dari pria yang sering dipanggilnya oppa itu. Sosok kakak yang lembut dalam detik ini hilang entah kemana. Mengerikan. Kata-kata yang dimilikinya tajam. Ri Young bergidik. Merinding. Cho Kyuhyun membalikkan badannya, tatapan dari mata merahnya juga tajam. Membuat Ri Young kembali menundukkan kepalanya, mengetahui tatapan pundak tadi berubah menjadi tatapan mata merah dan tajam. 
“Kita akan kembali ke Castor. Aku yakin kau mengingat tempat itu. Bersitirahatlah. Enam puluh detik lagi aku akan membawamu ke sana.” 
Cho Kyuhyun mengeluarkan stopwatch dari sakunya. Ia menyalakannya. Menunggu sampai hitungan detik ke tiga puluh. Ri Young mendongakkan kepalanya. Mengelak.
“Aku tidak ingin pergi. Aku tidak ingin bertemu dengannya.”
“Sejak kapan kau lupa bahwa kakakmu tidak akan menerima penolakkan? Diamlah, simpan energimu.”
“Aku tidak peduli, oppa. Bisakah kau membiarkanku tenang di sini? Kau pergi begitu saja saat mereka memusuhiku dan sekarang tiba-tiba kau datang dan menganggu kedamaianku.”
“Tidak ada yang memusuhimu di Castor.”
“Kau berkata seperti itu karena kau tidak melihatnya.”
“Aku sudah kembali. Tidak akan ada lagi yang memusuhimu. Istirahatlah.”
Hwang Ri Young berdiri dari tempatnya duduk. Berniat menggerakkan kakinya menuju pintu. Sayangnya stopwatch sudah merubah hitungan detiknya menjadi menit. Enam puluh detiknya habis. Cho Kyuhyun mencengkaram tangan Ri Young. Membuatnya meringis. Ri Young menatap Kyuhyun. Dan ia menemukan mata saphire blue milik Kyuhyun menatapnya. Cahaya aura keduanya kembali keluar. Menyatu. Energi Ri Young kembali terhisap. 
“Sudah ku bilang simpan energimu. Dan sudah kubilang aku tidak peduli kau kuat atau tidak, aku akan tetap membawamu kembali.”
Ruangan Ri Young dipenuhi asap yang diwarnai oleh auranya dan Kyuhyun. Mata Ri Young sudah berubah biru bersamaan dengan membirunya mata Kyuhyun. Sayap putih besar sudah muncul di punggung keduanya. Darah kembali keluar, meresap, dan menembus perban yang baru saja di pasang di jari manis kiri Ri Young. Tubuhnya melemas. Pergelangan tangan kirinya juga mulai mengeluarkan cairan merah itu. Tubuhnya ambruk dan kesadarannya hilang. Dengan sigap Kyuhyun menangkapnya. Dan mereka menghilang. Menyisakan aroma mint dan asap berwarna aura ungu di ruangan kerja Ri Young. 
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Ri Young duduk di dahan Coeden favoritnya. Bibirnya terus melengkung. Irisnya kembali seperti warna semula. Biru safir. Dress putih selutut dan jubah yang juga putih membalut dirinya. Di atas Coeden favoritnya, ia memainkan auranya bersama wangi mintnya. Melakukan hal yang telah lama tidak ia lakukan. Hal favoritnya. 
“Teimlo'n well? (Merasa lebih baik?)” Cho Kyuhyun datang. Melayang dari arah timur. Mendarat dan duduk di samping Ri Young. Di dahan yang sama dengan Ri Young. Ia berpakaian sewarna. Putih panjang yang menutupi hingga ujung lengannya sampai ujung kakinya. 
Ri Young mentap Kyuhyun. Tersenyum. Mengangguk.
“Ie. Brawd diolch. Diolch i chi. (Ya. Berkat Oppa terima kasih.)” Ketika ia kembali, semua masalahnya selesai. Tidak ada lagi konflik menyangkut dirinya.
“Peidiwch â mynd anymore. Dal i fod gan fy ochr. (Jangan pergi lagi. Tetaplah di situ.)”
“Dwi byth yn bwriadu mynd. (Aku tidak berniat untuk pergi.)”
Mereka tersenyum. Mereka berasal dari Castor. Mereka memang saudara. Mereka satu turunan. Akan tetapi, di Castor, bintang paling cermelang kedua di rasi gemini, tempat mereka berasal dan tinggal, menyukai saudara mereka adalah hal yang wajar. Hanya mereka yang ada di sana. Tidak ada generasi lain dan seterusnya. Hanya mereka. 
Di tempat itu, di dunia itu, kekuatan putih suci abadi. Di tempat di mana cahaya tidak berasal dari matahari atau apa pun di atasnya, tapi cahaya berasal dari tempat itu sendiri. Dari bawah mereka, tempat mereka menapakkan kaki. Tidak pernah ada malam, tetapi juga tidak pernah ada siang. 

Postingan populer dari blog ini

Korea? Why do I love it?

Assalamualaikum, Good morning guys, Morning? Ya, well ini dini hari sebenernya. Dan aku punya banyak pikiran yang tiba-tiba muncul. Bukan hal yang terlalu penting mungkin, pasalnya topik postingan kali ini yaitu mengenai hobi, kesukaan, dan hal yang selama ini buat aku keliatan “tergila-gila”. Tentang apa? Well, it’s about K-POP! Ya, K-POP. Jadi, suatu waktu ada seseorang yang tanya, “kamu kenapa suka Korea?”. Jujur, waktu itu rasanya aku nggak bisa ngomong apa-apa. Rasanya semua alasan yang selama ini aku simpan tersembunyi dibalik gugupnya aku akan pertanyaan itu (haha, alay kan, ya ini sih gara-gara yang nanya bukan orang biasa wkwk). Kenapa? Karena apa? Karena mereka ganteng? Karena oppa-oppa keren sangat? Ya, ini mungkin salah satu alasannya. Tapi percayalah, tampilan luar cuma bisa menarik sebentar aja. Mereka keren? Ya, mereka keren. Lebih keren dari apa yang ada di wajah mereka. Salah satu yang aku kagumi dari Korea adalah mereka serius mengembangkan bakat anak-anak remaja…

Lights is what I like

Ni Hao,
Kali ini saya ingin share tentang apa yang saya suka nih,
Semua orang pasti punya sesuatu yang disukai kan? Tentu saja. Itu yang membuat kita bahagia di tengah kesedihan.
Nah, salah satu yang saya suka adalah cahaya atau sinar. Cahaya itu sesuatu yang menyala. Selalu bersinar dan indah. Saya suka sekali cahaya. Baik cahaya lampu, cahaya lilin atau bahkan cahaya kunang-kunang.
Semua berawal saat saya sedang membutuhkan banyak motivasi. Disaat-saat tertentu saya seringkali merasa tertekan atau merasa dikejar-kejar sesuatu yang bernama waktu. Saya akui, dulu saya memang seseorang yang mungkin sulit untuk memanfaatkan waktu dengan baik. Mungkin itu yang membuat saya tertekan. Tetapi, saat ini saya sedang memperbaiki management waktu saya dan Alhamdulillah mulai merubah sikap boros waktu saya. 
Disaat tertekan saya seringkali mencari motivasi, motivasi yang saya bangun dari diri saya sendiri dan dari beberapa motivator atau beberapa idola saya. Saya sering diam di dalam kamar dengan cah…

Dia Bukan Bulan

Dulu aku pikir dia bulan. Ternyata bukan. Dia hanya bias cahaya yang akan pergi menghilang ketika aku mematikan flashku.

Karena bulan bulan tidak akan pernah pergi, jadi kamu bukan bulan.

Aku rasa aku sudah menyia-nyiakan waktuku untuk sebuah bias.

Tapi, aku tidak menyesal. Karena pada akhirnya aku tahu, tidak semua rasa yang menggebu-gebu itu kau butuhkan.

Pada akhirnya, setelah kamu begitu, aku jadi sadar akan banyak tanda.

Pada akhirnya juga aku sadar, air mataku yang pernah jatuh bukan sepenuhnya karenamu atau untukmu.

Penghakimanku terhadap diriku sendiri, pemaksaanku terhadap hatiku sendiri, dan ambisiku untuk menghilangkan trauma -semua kekhilafan yang pernah aku lakukan dulu- aku baru sadar jika air mataku jatuh karena hal-hal itu.

Sekarang, tidak akan seperti itu lagi. The past is in the past. Good bye!

Kita mungkin akan bertemu lagi, tapi hatiku dan caraku memandangmu tidak akan pernah sama seperti dulu. Jadi, Good Bye!