Langsung ke konten utama

Berbicara Tentang Bulan



Berbicara tentang bulan. Entah sejak kapan aku menyukainya. Dulu, yang selalu aku lihat adalah bintang. Dulu, satu yang sangat mendamaikan adalah saat dimana bintang banyak bermunculan di atas sana. Banyak, sangat banyak. Dulu, disaat malam itu tiba, kami bersama-sama keluar dari apa yang kami sebut sebagai istana kami. Entah apa yang waktu itu kami lakukan. Aku pun lupa apa yang sebenarnya ingin aku lakukan. Yang aku ingat saat itu bahwa di luar sana terdengar suara ceria dari teman-teman kecilku. Beberapa orang tua juga saling bercengkrama di bawah langit malam yang saat itu aku belum mengetahui jika di sana ada berjuta yang ikut menemani mereka. “Aku” kecil saat itu merasakan keramaian yang berbeda. Bukan hanya dari teman kecil, tetapi juga dari langit gelap di atas sana. Aku memutuskan untuk ikut keluar dan bermain bersama mereka, teman kecilku. Orang tuaku juga ikut bersamaku untuk bercengkrama dengan orang tua yang lainnya. Saat itu, “Aku” kecil untuk pertama kalinya menyukai, sangat menyukai langit malam. Kalian tau apa yang membuatku begitu suka? Kalian tau apa yang aku kecil rasakan? Kalian tau apa yang dimaksud dengan keramaian yang berbeda oleh aku kecil? Jawabannya adalah bintang. Mereka adalah bintang. Bertabur di langit gelap itu. Banyak, banyak sekali. Malam itu seperti malam tanpa hampa, tanpa kekosongan. Setiap sisi gelap langit yang aku lihat, di sana selalu ada banyak bintang yang aku kecil lihat. Seluas langit itu, seluas mata kecilku saat itu memandang, yang aku lihat hanya bintang. Tidak ada kegelapan. Seperti yang aku katakan, setiap sisi dari langit gelap, semua yang aku bisa lihat adalah bintang. Dan saat itu, bulan juga ikut bercengkrama dengan bintang. Seperti yang dilakukan di bawah mereka, anak-anak kecil yang bermain dan orang tua yang bercengkrama. Itu malam terindah yang pernah aku rasakan. Sekarang, saat waktuku mulai berlalu detik demi detik, angka di umurku juga bertambah. Mungkin langit itu juga serta bintang di sana. Semakin beranjak waktuku, semakin jarang aku melihat suasana seperti itu. Semakin jarang aku melihat bintang yang berjuta-juta itu muncul. Kemana mereka? Apa mereka bersembunyi di balik gelapnya langit? Entah lah.
Semakin waktu berlalu, aku tidak pernah melihat bintang sebanyak itu lagi hingga aku menemukan lima belas sosok yang bersinar. Ya, mereka bersinar dalam gelap yang aku rasakan. Mereka tidak ada di langit sana, tapi mereka ada di sini, di bumi, tempat aku tinggal. Walaupun begitu, mereka tetap jauh, seperti bintang di atas sana. Entah kenapa, aku merasa bahwa Tuhan telah menurunkan lima belas bintang itu ke bumi dan membiarkan mereka bersinar di bumi. Mereka Shining Stars. Aku bersyukur menemukan mereka kala itu, saat aku terjatuh.
Waktu kembali berlalu. Waktu berjalan bersama aku dan lima belas bintang itu. Tapi, tetap saja, aku belum pernah lagi melihat berjuta bintang di langit. Tapi, setidaknya ada bintang itu dibagian hidupku.
Begitulah, akhirnya semua berjalan bersama dengan waktu, aku, dan bintang.
Tapi..
Ada yang lain.
Di satu malam saat itu, aku memandang ke arah bulan. Ya, aku memang sudah biasa melihat bulan sebenarnya. Tapi saat itu berbeda. Bahkan dengan bulan yang waktu itu aku lihat, bulan yang bersinar dengan anehnya tidak ikut menyinari bagian awan yang lain, bulan yang benar-benar terlihat terang di tengah gelap. Bulan yang aku lihat saat itu, bersinar terang. Bukan hanya terang, bulan itu putih bersih, sangat putih, seperti tanpa noda. Bulan itu seakan dengan ramahnya menyapa malam. Malam tetap dingin, tapi satu hati dalam malam itu terasa damai dalam kedinginan, damai oleh bulan. Kau tau? Sejak saat itu, aku juga mulai melihat bulan. Ada satu orang yang aku ingin ajak untuk merasakan malam itu. orang yang entah sejak kapan datang. Dia bilang dia menyukai saat-saat seperti itu, saat saat bulan bersinar seperti itu. Aku setuju dengannya bahwa bulan memang indah. Tanpa sadar, setiap kali aku pulang, aku selalu mencari bulan. Siklusnya yang muncul purnama setiap tengah bulan, membuatku kadang harus juga merasakan gelap malam yang tanpa hiasan.
Aku menyukai bulan. Seperti apa yang diucapkan dia –orang itu, bulan tetap disukai banyak orang meskipun tidak dalam keadaan purnama. Bahkan, saat tubuhnya terlihat sangat sedikit dalam bentuk cekungan, orang tetap mengaguminya. Bulan sabit, tetap terlihat indah kan? Bahkan sangat indah.
Aku menyukai bulan dan juga perasaan yang sama pada orang itu. Yang kadang buat aku tidak berkutik, kadang buat aku selalu menunggu, kadang buat aku masuk dalam sebuah mimpi indah, kadang buat aku damai dengan nadanya, buat aku bingung, buat aku takut, buatku menangis haru dalam diam, buatku tidak bisa mengekspresikan apa yang sebenarnya ada di dalam sana.
Dia itu spesial. Karenanya aku hilang.
Terimakasih banyak untuk semuanya.
Dan maaf, aku tidak tau harus bagaimana untuk bertindak. Maaf, jika aku terlihat berubah. Maaf, jika aku tidak bisa bersikap seperti dulu. Maaf jika aku melakukan yang seharusnya tidak dilakukan. Maaf jika aku sering berlebihan. Maaf jika aku belum memberi apa pun.
Tapi satu, bersinarlah seperti bintang atau pun bulan karena aku menyukai keduanya. Penuhi komitmen baikmu karena aku ingin terbang bersama suatu hari nanti.

“I find hard to find my self while I find my self lost in you. Don’t go.”    

Pos populer dari blog ini

Epic Dream

Mimpi. Mereka bilang, jika kau bermimpi tentang seseorang, maka jiwamu sedang bertemu dengan jiwa seseorang yang kau mimpikan. Sebagian lainnya mengatakan, jika kau memimpikan seseorang, itu pertanda seseorang yang kau mimpikan itu sedang memikirkanmu sebelum ia terlelap.

Banyak sekali yang mereka katakan tentang mimpi. Bermimpi dan dimimpikan. Bagiku, mimpi adalah sebuah perjalanan bersejarah yang tidak pernah bisa aku ungkapkan secara menyeluruh. Tidak bisa aku siratkan maksudnya meskipun aku berkata secara gamblang. Bagiku, cerita-cerita itu tetap terkubur dalam bersama perasaanku, meskipun aku telah membaginya. 
Mimpi seolah menjadi jejak, menjadi potongan-potongan kisah kita yang belum pernah terwujud. Belum. Dan aku tidak pernah tau, mungkinkah ini akan terwujud? Mungkinkah? Sedang kita terpisah jarak bermil-mil jauhnya. Terpisah rentang waktu yang juga mendukung jarak pisah kita. Juga, Haru, semua seolah mendukung jarak yang entah jauh, entah sangat dekat.
Mimpi. Bagaimana kita…

Hujan

Hujan. Ini bukan tentang apa yang kamu suka, bukan juga tentang apa yang aku suka.  Tapi, ini ini tentang apa yang kita suka. Hujan. Kau tau? Aku tidak membenci hujan, meski hujan membuatku basah kuyub. Aku tidak juga membenci hujan, meski kadang kedatangannya bersama petir yang aku takuti.
Aku menyukai hujan jauh sebelum aku mengenalmu. Bagiku, hujan itu seperti rintikkan semangat yang turun untuk terkabulnya harapan dan cita-citaku. Ya, semangatku bukan teriknya matahari. Tapi, hujan yang turun dengan damainya ke tanah atau jalanan yang aku tapaki.
Aku masih menyukai hujan hingga aku mengenalmu dan perlahan memahami.  Perlahan paham jika hujan juga sudah merebut tempat di hatimu.
Aku tidak tau tentang apa yang membuatmu menyukai hujan.  Aku tidak tau tentang apa yang kau sukai dari hujan.  Aku masih tidak tau tentang 'hujan dan kamu'.
Aku tidak pernah membenci hujan. Sejak saat itu. Sejak aku pertama kali jatuh cinta pada gelapnya awan. Tetap tidak, saat aku mengenalmu. Dan …

Sweetest Story Ever Written

Kopi itu pahit. Dan romantismu itu seperti kopi. Iya, hanya orang-orang yang memahaminya yang bisa merasakan manisnya. Ya, seperti itu lah kamu.

Kamu, pangeran yang bahkan tidak pernah terbayangkan olehku bagaimana kita bisa saling bertemu. Kamu, orang yang membuat diriku terus mengulang alur dari pengenalan hingga alur kita di saat ini. Kamu, orang yang mengajariku untuk bersabar melihat klimaks dari cerita kita bersama-sama hingga bagaimana akhir dari cerita ini nanti akan ditulis. Kamu... yang berhasil menyita seluruh kekaguman yang pernah aku berikan pada orang lain sebelummu. Kamu... yang pada akhirnya membuatku percaya jika masih ada pangeran baik-baik yang akan menghargai seorang putri  setulus ia menghargai ratunya, ibunya. Tidak seperti kebanyakan yang hanya datang  di saat manis dan pergi di kala bosan. Tapi kamu... mampu mengubah semua pandanganku tentang itu. Kamu yang berani memberi keputusan tapi tidak di atas janji. Kamu yang menyadarkanku bagaimana indahnya rasa suci y…