Langsung ke konten utama

THE OPERA [PART 3]


THE OPERA PART 3
CAST : SHIN HWA RIN (OC)
HAN RI YOUNG (OC)
MEMBER SJ
MEMBER EXO K & EXO M
GENRE : FICTION, ROMANCE
RATING : - (TENTUKAN SENDIRI)


Hwa Rin terbangun dari tidurnya. Sepi.
“Sepertinya mereka masih tertidur.” Ia mendesah. Sorotan matanya tertuju pada jam bermodel tua dan kuno.
“Pagi sekali?” desahnya pelan. Jarum jam tertarik untuk mengarah pada angka satu saat ini. Ini masih pukul satu dini hari.
Lilin dalam kamarnya menyala otomatis. Hwa Rin bangkit dari tempat tidurnya. Ia tidak mungkin kembali tertidur saat ini. Auranya akan bersinar sangat cerah saat dini hari seperti ini dan ia menyukainya, sangat menyukainya.
Warna biru safir perlahan muncul dari jari-jarinya. Ia tersenyum dan …
Menghilang.
Kemudian muncul kembali di atap tempat persinggahannya. Ia terus tersenyum dan membiarkan warna biru safir itu menari di sekitar tubuhnya. Ia memiliki warna aura yang sama dengan adiknya, Ri Young. Perlahan ia duduk.
Pikirannya membawanya teringat pada apa yang dibicarakan kakak-kakaknya semalam.
Bumi? Apakah aku pernah pergi ke tempat itu?
Ia terus bergumam dalam diam. Perasaannya mengatakan ia pernah pergi ke sana, tetapi otaknya tidak mau membuka memori lamanya. Rasa ingin tahunya memuncak dan membawanya pada satu pikiran yang membahayakan, setidaknya berbahaya bagi dirinya sendiri.
Aku harus ke sana. Pikirnya.
Ia berdiri. Entah bagaimana caranya, saat ini ia merasa benar-benar harus pergi ke tempat itu, ke bumi. Orang tuanya berada di sana, itu yang dikatakan Su Ho padanya dan yang lain. Ia merindukan orang tuanya. Seratus tahun bukan waktu yang lama. Orang tuanya berada di tempat asing selama itu. Dan yang mereka lakukan hanya diam di planet ini. Bahkan Su Ho yang tahu di mana mereka berada pun hanya diam dan baru angkat bicara semalam. Setelah waktu yang cukup lama. Tubuhnya lemas memikirkan itu.
Hwa Rin menunduk kemudian membalikan tubuhnya dan mendapatkan sepasang kaki di depannya. Ia pikir dini hari seperti ini tidak akan ada orang yang keluar. Perlahan ia mengangkat kepalanya dan mendapati Luhan di depannya. Ia sedikit terkejut. Kakinya melangkah perlahan ke belakang. Ia lupa di mana ia berada sekarang. Ia terjatuh. Dengan sigap Luhan menampakan sayapnya dan  menangkap adiknya kemudian membawanya ke halaman belakang.
“Oppa kau mengejutkanku.”
“Apa yang kau lakukan sepagi ini?”
“Aku hanya terbangun.”
“Jangan berpikiran dan berlaku macam-macam.”
Mereka keturunan empat belas saudara dan mereka saling mengerti. Tentu saja Luhan dapat menangkap apa yang dipikirkan adiknya tadi dan itulah yang membangunkannya. Sebenarnya Mereka tidak dapat membaca pikiran satu sama lain, tetapi mereka sudah mengenal satu sama lain sejak lama dan mereka saling mengerti. Itu yang membuat mereka mendapat satu keahlian lagi, membaca pikiran saudaranya. Tidak banyak yang bisa mereka baca, tetapi hal serius ini tentu dapat terbaca oleh mereka.
“Memangnya aku kenapa?” Hwa Rin tau mereka bisa membaca sedikit pikirannya, tetapi ia tidak tau jika kakaknya itu dapat membaca pikirannya saat ia mencoba untuk turun ke bumi. Dan sudah pasti yang lain juga akan membaca pikirannya.
“Kau pikir aku tidak tau apa yang kau pikirkan? Kau lupa jika kita mempunyai sedikit kemampuan untuk itu? Pergi ke bumi, kau kira itu tidak berbahaya?” Luhan sedikit membentak. Hwa Rin menunduk. Warna biru safir yang tadi menari sekarang memudar bahkan hilang. Rasa takut menghampirinya. Melihat kakaknya marah ternyata dapat menghilangkan sifat pemberaninya.
Luhan mendekat dan memeluk Hwa Rin. Ia mencoba menenangkan adiknya. ia mnegajak adiknya masuk. Di dalam semuanya sudah berkumpul. Hwa Rin masih menundukkan kepalanya. Luhan terus memeluk adiknya.
“Pergi sendiri sangat membahayakan. Jangan khawatir, kita akan pergi bersama.” Ucap Su Ho tetap dengan sikap tenangnya saat melihat Hwa Rin dan Lu Han masuk.
“Seakarang masih dini hari, tidurlah. Simpan tenaga kalian.” Ucapnya lagi.
Lilin yang sempat menyala, sekarang mati. Semua menjadi gelap. Mereka kembali ke kamar mereka. Kecuali Hwa Rin dan Ri Young.
“Eoni, aku mau mengajakmu ke suatu tempat.”
“Kemana?”

--------------skip
“Kau mau apa, Ri Young?”
Tempat ini sangat gelap dan sepertinya tidak ada yang pernah datang kemari sebelumnya. Hwa Rin dan Ri Young hanya mengandalkan dua lilin yang mereka bawa untuk penerangan. Ada sedikit cahaya di balik semak-semak. Hwa Rin sama sekali tidak mengerti tempat apa ini.
“Kita ke bumi sekarang.” Ucap Ri Young yang berhasil membuat Hwa Rin terkejut.
“Apa? Jangan macam-macam Ri Young, barusan oppa memarahiku karena ini.”
“Tapi, orang tua kita di sana, Eoni.”
“Bukankah Su Ho oppa sudah bilang kita akan pergi bersama? Ayolah, kita pulang saja.” Hwa Rin menarik tangan Ri Young, tetapi tarikan Ri Young lebih kuat dan membawa Hwa Rin ke depan sumber cahaya.
“Oppa selalu bilang seperti itu, tetapi tidak tau kapan mereka akan melakukannya. Lebih baik kita lakukan sendiri saja.”
Ri Young melangkah memasuki cahaya itu dengan tetap menggenggam tangan Hwa Rin. Hwa Rin mencoba menghalanginya tetapi terlambat. Seketika semua menjadi putih.
Mereka membuka mata dan menemukan diri mereka di tempat yang asing.
“Mungkinkah ini bumi?”

Pos populer dari blog ini

Epic Dream

Mimpi. Mereka bilang, jika kau bermimpi tentang seseorang, maka jiwamu sedang bertemu dengan jiwa seseorang yang kau mimpikan. Sebagian lainnya mengatakan, jika kau memimpikan seseorang, itu pertanda seseorang yang kau mimpikan itu sedang memikirkanmu sebelum ia terlelap.

Banyak sekali yang mereka katakan tentang mimpi. Bermimpi dan dimimpikan. Bagiku, mimpi adalah sebuah perjalanan bersejarah yang tidak pernah bisa aku ungkapkan secara menyeluruh. Tidak bisa aku siratkan maksudnya meskipun aku berkata secara gamblang. Bagiku, cerita-cerita itu tetap terkubur dalam bersama perasaanku, meskipun aku telah membaginya. 
Mimpi seolah menjadi jejak, menjadi potongan-potongan kisah kita yang belum pernah terwujud. Belum. Dan aku tidak pernah tau, mungkinkah ini akan terwujud? Mungkinkah? Sedang kita terpisah jarak bermil-mil jauhnya. Terpisah rentang waktu yang juga mendukung jarak pisah kita. Juga, Haru, semua seolah mendukung jarak yang entah jauh, entah sangat dekat.
Mimpi. Bagaimana kita…

Hujan

Hujan. Ini bukan tentang apa yang kamu suka, bukan juga tentang apa yang aku suka.  Tapi, ini ini tentang apa yang kita suka. Hujan. Kau tau? Aku tidak membenci hujan, meski hujan membuatku basah kuyub. Aku tidak juga membenci hujan, meski kadang kedatangannya bersama petir yang aku takuti.
Aku menyukai hujan jauh sebelum aku mengenalmu. Bagiku, hujan itu seperti rintikkan semangat yang turun untuk terkabulnya harapan dan cita-citaku. Ya, semangatku bukan teriknya matahari. Tapi, hujan yang turun dengan damainya ke tanah atau jalanan yang aku tapaki.
Aku masih menyukai hujan hingga aku mengenalmu dan perlahan memahami.  Perlahan paham jika hujan juga sudah merebut tempat di hatimu.
Aku tidak tau tentang apa yang membuatmu menyukai hujan.  Aku tidak tau tentang apa yang kau sukai dari hujan.  Aku masih tidak tau tentang 'hujan dan kamu'.
Aku tidak pernah membenci hujan. Sejak saat itu. Sejak aku pertama kali jatuh cinta pada gelapnya awan. Tetap tidak, saat aku mengenalmu. Dan …

Sweetest Story Ever Written

Kopi itu pahit. Dan romantismu itu seperti kopi. Iya, hanya orang-orang yang memahaminya yang bisa merasakan manisnya. Ya, seperti itu lah kamu.

Kamu, pangeran yang bahkan tidak pernah terbayangkan olehku bagaimana kita bisa saling bertemu. Kamu, orang yang membuat diriku terus mengulang alur dari pengenalan hingga alur kita di saat ini. Kamu, orang yang mengajariku untuk bersabar melihat klimaks dari cerita kita bersama-sama hingga bagaimana akhir dari cerita ini nanti akan ditulis. Kamu... yang berhasil menyita seluruh kekaguman yang pernah aku berikan pada orang lain sebelummu. Kamu... yang pada akhirnya membuatku percaya jika masih ada pangeran baik-baik yang akan menghargai seorang putri  setulus ia menghargai ratunya, ibunya. Tidak seperti kebanyakan yang hanya datang  di saat manis dan pergi di kala bosan. Tapi kamu... mampu mengubah semua pandanganku tentang itu. Kamu yang berani memberi keputusan tapi tidak di atas janji. Kamu yang menyadarkanku bagaimana indahnya rasa suci y…