Langsung ke konten utama

THE OPERA [PART 2]

THE OPERA PART 2
CAST : SHIN HWA RIN (OC)
HAN RI YOUNG (OC)
MEMBER SJ
MEMBER EXO K & EXO M
GENRE : FICTION, ROMANCE
RATING : - (TENTUKAN SENDIRI)
 


“aku tidak mengerti kenapa kita bersaudara padahal marga kita berbeda.. seluruhnya” – Lu Han
“aku tidak bisa menjelaskan.. tetapi memang beginilah adanya, takdir yang mengatur segalanya” – Su Ho
“aku ingin hidup seperti yang selalu aku impikan setiap malam..... seperti manusia” – Baekhyun
“aku juga” – Hwa Rin & Ri Young

Angin itu........ tetap berhembus panjang, menekan masuk menusuk seluruh bagian tubuh, mereka. Duduk bersama adalah hal yang paling mereka sukai walaupun angin seperti ini mendera. Beberapa mulai menggosok permukaan tangan masing masing.
“kita harus turun” Kris tersenyum di akhir “untuk?” D.O menatapnya
“kalian semua butuh pelajaran, butuh pergi kesekolah” Kris tersenyum lagi “SHIRO!!!!!” Xiu Min berteriak lalu berlari entahlah sepertinya ia menuju kamarnya.. ia tidak suka bertemu orang banyak, semacam phobia terhadap orang lain.




•THE OPERA•




“Aku tidak menyukai orang lain... kumohon.. aku membenci mereka! Apa kalian lupa siapa yang membunuh orang tua kita hah??!! Mereka!!”-- Xiu Min
“bukan mereka bodoh!! Mereka hanya bentuknya! Apa kau tidak mengerti hah? Yang membunuh orang tua kita itu bangsa NAM!! Bangsa selatan!!”-- Kai
Mereka berteriak, Kris mulai memejamkan matanya, dan ketika ia membuka matanya bingo! Biru laut, semua menatapnya was-was.
“hentikan semua ini!” ia berteriak---Kris---
Hanya Kris yang bisa mengendalikan emosinya, ia mempelajarinya sebagai seorang kakak, ia belajar segalanya...
“kau tidak mengerti kenapa mereka dibunuh!!!”-- Xiu Min
“Aku mengerti!!! Bahkan aku juga anaknya! Bangsa NAM adalah yang terkuat... mereka memiliki mantra lebih banyak dari kita.. mereka merubah apapun bentuk dirinya yang diinginkan... ketika mereka bertaung dengan orang tua kita, mereka merubah dirinya menjadi manusia! Kau tahu? Kau tahu manusia?”—Kai


Hening..........


Semua sibuk mencerna apa yang Kai katakan barusan
“dari mana kau tahu?” Lu Han menatapnya tajam, menatap Kai tepatnya
Semua mengalihkan pandangan, sebentar suasana menjadi dingin, mereka semua..... mulai bermata biru laut
“aku..... melihat dengan mata kepalaku sendiri saat sedang menguji kekuatan teleportasiku, tak sengaja aku melihat mereka bertarung..” kai menunduk... menyembunyikan rasa rindu kepada orang tuanya di sana
“mereka tidak mati.. tidak juga musnah... mereka hanya menunggu kita di sana.......” Su Ho duduk dengan tenang ketika mendapati semua menatapnya
Lalu tersenyum sekilas sebelum melanjutkan kalimatnya
“di BUMI” semua tercekat, menatapnya lalu berlari keluar. semua yang menyembunyikan sayapnya mulai memperlihatkannya, mata yang telah berubah –biru abu—membuatnya terasa lebih nyaman. Jubah putih yang menyembunyikannya menghilang berganti dress selutut kain sutra dengan satu pengait untuk Hwa Rin dan Ri Young dan kemeja putih longgar serta celana putih semi-formal yang telihat melekat di kesepuluh kakaknya. Tunggu? Sepuluh?
“hentikan! Turun dan cepat kembali tidur! Kita ke Bumi besok!” Su Ho memejamkan matanya mengisyaratkan dengan telepati yang mereka punya
Hwa Rin serta Ri Young berdecih pelan dan disambut kekehan dari sang kakak, Kris.
“kapan kalian terlihat dewasa?” dia tersenyum lalu mengusap rambut kedua adiknya
“kami sudah besar, bahkan umurku telah 200 tahun! Dan Hwa rin 201 tahun!” Ri young seperti biasa, mem-pout kan bibirnya. Lalu dengan cepat pukulan ringan itu mendarat pada pucuk kepala Ri Young “kau kenapa?” tanyanya sebal
“AKU KAKAKMU BODOH!!! KAU TIDAK SOPAN DENGANKU!! KAU TAHU?” ia berteriak, Hwa Rin berteriak dihadapan kakaknya Kris, ini jarang terjadi

BYURR

“kalian berdua butuh mandi sepertinya! Itu hukuman untuk kalian! Arraseo?!!!” Su Ho tersenyum puas melihat kedua adik perempuannya mandi karena ulahnya, Air... kelebihannya mengendalikan air.
Api itu mati... tak ada penerangan kini, semua beranjak tidur, menyibakkan selimut dan menutupi seluruh tubuh. Mereka semua tidak pernah tahu apa yang akan mereka hadapi selanjutnya hanya tingal menunggu.................

By : Hydra Fey

Pos populer dari blog ini

Epic Dream

Mimpi. Mereka bilang, jika kau bermimpi tentang seseorang, maka jiwamu sedang bertemu dengan jiwa seseorang yang kau mimpikan. Sebagian lainnya mengatakan, jika kau memimpikan seseorang, itu pertanda seseorang yang kau mimpikan itu sedang memikirkanmu sebelum ia terlelap.

Banyak sekali yang mereka katakan tentang mimpi. Bermimpi dan dimimpikan. Bagiku, mimpi adalah sebuah perjalanan bersejarah yang tidak pernah bisa aku ungkapkan secara menyeluruh. Tidak bisa aku siratkan maksudnya meskipun aku berkata secara gamblang. Bagiku, cerita-cerita itu tetap terkubur dalam bersama perasaanku, meskipun aku telah membaginya. 
Mimpi seolah menjadi jejak, menjadi potongan-potongan kisah kita yang belum pernah terwujud. Belum. Dan aku tidak pernah tau, mungkinkah ini akan terwujud? Mungkinkah? Sedang kita terpisah jarak bermil-mil jauhnya. Terpisah rentang waktu yang juga mendukung jarak pisah kita. Juga, Haru, semua seolah mendukung jarak yang entah jauh, entah sangat dekat.
Mimpi. Bagaimana kita…

Hujan

Hujan. Ini bukan tentang apa yang kamu suka, bukan juga tentang apa yang aku suka.  Tapi, ini ini tentang apa yang kita suka. Hujan. Kau tau? Aku tidak membenci hujan, meski hujan membuatku basah kuyub. Aku tidak juga membenci hujan, meski kadang kedatangannya bersama petir yang aku takuti.
Aku menyukai hujan jauh sebelum aku mengenalmu. Bagiku, hujan itu seperti rintikkan semangat yang turun untuk terkabulnya harapan dan cita-citaku. Ya, semangatku bukan teriknya matahari. Tapi, hujan yang turun dengan damainya ke tanah atau jalanan yang aku tapaki.
Aku masih menyukai hujan hingga aku mengenalmu dan perlahan memahami.  Perlahan paham jika hujan juga sudah merebut tempat di hatimu.
Aku tidak tau tentang apa yang membuatmu menyukai hujan.  Aku tidak tau tentang apa yang kau sukai dari hujan.  Aku masih tidak tau tentang 'hujan dan kamu'.
Aku tidak pernah membenci hujan. Sejak saat itu. Sejak aku pertama kali jatuh cinta pada gelapnya awan. Tetap tidak, saat aku mengenalmu. Dan …

Sweetest Story Ever Written

Kopi itu pahit. Dan romantismu itu seperti kopi. Iya, hanya orang-orang yang memahaminya yang bisa merasakan manisnya. Ya, seperti itu lah kamu.

Kamu, pangeran yang bahkan tidak pernah terbayangkan olehku bagaimana kita bisa saling bertemu. Kamu, orang yang membuat diriku terus mengulang alur dari pengenalan hingga alur kita di saat ini. Kamu, orang yang mengajariku untuk bersabar melihat klimaks dari cerita kita bersama-sama hingga bagaimana akhir dari cerita ini nanti akan ditulis. Kamu... yang berhasil menyita seluruh kekaguman yang pernah aku berikan pada orang lain sebelummu. Kamu... yang pada akhirnya membuatku percaya jika masih ada pangeran baik-baik yang akan menghargai seorang putri  setulus ia menghargai ratunya, ibunya. Tidak seperti kebanyakan yang hanya datang  di saat manis dan pergi di kala bosan. Tapi kamu... mampu mengubah semua pandanganku tentang itu. Kamu yang berani memberi keputusan tapi tidak di atas janji. Kamu yang menyadarkanku bagaimana indahnya rasa suci y…