Langsung ke konten utama

THE OPERA [PART 1]


THE OPERA
PART 1
By : Risna Rahmawati
Cast :
Shin Hwa Rin
Han Ri Young
Member Exo K – Exo M
Member SJ

Semburat ungu muncul di bagian timur planet Exo. Empat belas keturunan itu tersadar dari mimpinya. Semburat ungu menyilaukan mata mereka dan memancing mereka melihat ke arah jendela kamar. Perlahan mereka bangkit dan melangkahkan kaki menuju jendela ruang berukuran sedang tempat mereka berbaring tidur.
Sejenak mereka terpana. Kemudian tersadar. Mata biru abu bersinar cerah, kebahagiaan menyelimuti batin mereka. Lengkungan kebahagiaan di bibir pun terbentuk. Ini saatnya mempersiapkan semua sebelum sang raja penyinar dunia benar-benar nampak. Bong akan segera dimulai.
Di lahan tandus tanpa penghalang satu pohon pun Bong dilaksanakan. Lahan kosong ini berada di Timur planet Exo. Tepat sama dengan arah matahari datang. Dua puluh langkah jarak lahan ini dari lahan penuh pohon tempat mereka tinggal. Tanah hanya ditemukan di lahan tandus ini. Satu-satunya lahan tandus di planet ini. Satu-satunya lahan yang digunakan untuk Bong.
Shin Hwa Rin, adik ke-tiga belas, melangkahkan kakinya di belakang Lu Han, membantunya mengangkat jing –gong besi besar khas Korea- dan membawanya ke lokasi akan diadakannya Bong. Han Ri Young, adik ke-empat belas bersama Kai tiba terlebih dahulu di lokasi, mereka bertugas menyusun dan mengatur letak yang tepat untuk acara ini. Sepuluh orang lainnya membantu membawa alat musik tradisional khas Korea.
Ke-empat belas keturunan ini membagi diri mereka menjadi dua grup. Tujuh orang pertama akan menyanyi dan menari, tujuh orang lainnya akan memainkan musiknya.
Semburat ungu kini bercampur dengan orange menandakan kepala sang penyinar sampai di ujung tempat persembunyiannya. Sedetik lagi matahari muncul. Kim Joon Myun –leader yang biasa disebut Su Ho maju memimpin.
Alunan nada-nada musik ‘History’ terdengar dari alat musik tradisional. Tujuh turunan menggerakkan badan mengikuti irama musik, menghentakkan kaki mengikuti ketukan, melontarkan kata-kata dalam lagu. ‘History’ –sebuah kumpulan nada musik dan syair yang menunjukan bahwa mereka sadar akan matahari yang begitu besar, menunjukkan bahwa mereka membutuhkan matahari, dan cerita yang mereka lalui. Mereka ingin menciptakan banyak sejarah setiap pagi hingga pagi kembali dan seterusnya. Mereka ingin menciptakan sejarah di bawah matahari.
Semua menggerakkan bibir mereka –bernyanyi bersama emosi yang mereka ciptakan. Bermain magic  di sela-sela tarian yang mereka gerakkan. Mata biru abu bersinar bahagia. Mereka menyebarkan kebahagiaan. Jutaan pohon yang tumbuh menghembuskan oksigen yang dikandungnya. Udara sangat bersahabat, kesejukannya benar-benar terasa. Matahari itu sendiri bersinar terang, sangat terang, tetapi enggan memberikan rasa panasnya pada empat belas keturunan. Alam terasa begitu bersahabat. Tidak akan ada kerusakan alam yang terjadi di planet ini. Tidak jika manusia serakah di bumi penacari kepuasan dari sebatang pohon itu tidak pernah datang dan menghuni di planet surga ini. Empat belas keturunan tidak akan membiarkan manusia menemukan planet ini.
Decitan batang bambu –dari pohon tidak jauh dari tempat mereka melakukan Bong- terdengar merdu. Magic membuat bambu-bambu itu menggantikan tujuh turunan memainkan alat musik. Sekarang musik indah hanya tercipta dari decitan bambu.
Tujuh turunan pemain alat musik bergabung dengan tujuh saudara mereka. Mengepakkan sayap besar mereka bersama. Perlahan mereka mulai melayang. Sinar aura mereka keluar dari ujung jari mereka. Simbol yang mereka miliki bersinar. Seirama dengan nada yang diciptakan decitan bambu, mereka menari di udara. Menggerakan bebas tangan mereka, sinar aura pun ikut menari. Ini lah sejarah yang mereka buat di bawah sinar sang mentari. 
Hari ini mereka benar-benar merasa bahwa mereka satu keluarga. Mereka merasa jiwa mereka satu. Emosi yang mereka miliki bersatu di hari ini, menari bersama tubuh indah mereka di iringi nada indah dari bambu. Sinar matahari pun menyatu dengan mereka.
Enam jam mereka melakukan tarian. Tepat pukul dua belas siang mereka mulai berhenti. Suara decitan bambu memudar hingga akhirnya tidak terdengar. Empat belas keturunan kembali menapakkan kaki di planet. Sinar aura mereka kembali dalam tubuh mereka melalu jari-jari mereka. Semua kembali tenang.
Matahari seolah mendekatkan dirinya dengan empat belas keturunan. Sang mentari nampak sangat besar. Ia memberikan kehangatannya pada empat belas keturunan yang kini berdiri membentuk satu barisan lurus menghadap matahari. Tangan mereka saling bergenggaman. Wajah mereka menatap mentari, sosok yang akan hadir dalam waktu yang lama setelah hari ini. Mereka mengangkat kepala mereka seolah berbincang dengan matahari. Dalam hati, mereka mengucapkan semua yang ingin mereka katakan pada matahari. Satu rasa syukur yang amat besar mereka tunjukkan pada Tuhan.
Perlahan mereka duduk di bawah sinar matahari, menemani matahari hingga ia harus mengalah pada kegelapan malam, mengucapkan salam perpisahan pada matahari dan kembali dengan membawa alat-alat tradisionalnya.
Kini saatnya mereka kembali terlelap dalam pejaman mata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I am story of my life Episode 1

Annyeong haseyo ^^
Selamat pagi/malam/siang/sore .. Di sini saya datang bersama teman saya yang bernama Alvian Octaviandi. Dia punya hobi menulis dan di bawah ini adalah karyanya. Silakan dibaca :D komentar, saran, kritik dipersilakan ^^
I am story of my life
Episode 1
CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA JIKA ADA KESAMAAN TOKOH, WATAK, SERTA ALUR CERITA YA MAAF NAMANYA JUGA ENGGAK SENGAJA
Ini berasal dari pengalaman hidup gue yang gak disengaja.


Awal cerita ini bermula ketika gue udah lahir kedunia ini. Kalau boleh gue mau ceritain asal-usul serta proses dari bapak gue yang suka sama ibu hingga mereka melakukan kemaksiatan itu. Tapi gue agaknya gak berani deh, soalnya kalau ntar adek gue baca ceritanya terus dia tanya, ”kakak, adek juga dibuatnya kayak gitu juga enggak?”. Gue jadi bingung ntar kalok gue bilang “sama”, terus dia bilang kita kok beda jauh ya, mungkin kakak produk gagal ya? Kok cantikan adeknya? Haduh, tapi gue juga takut kalau ntar gue jawab “beda”, padahalkan kalau cewek sama co…

I am story of my life Episode 3

I am story of my life Episode 3 Garing-garing, galau-galau, modus-modus, emang dasar jomblo. Tapi emang sih gue akui jomblo itu emang membahagiankan hidup gue, tapi... kadang-kadang hidup gue ada yang terasa kurang. Kurang miris dikit, diiris pake pisau apa diiris pake gergaji gitu. Akhir-akhir detik ini gue sering merasa sakit, iya sih sakitnya gak seberapa tapi luka nya bisa sampe tiga-empat  jam, kalian fikir aja coba pake kemampuan ilmu matematika otak masing-masing, jika gue sakitnya dua detik, lukanya bisa sampai sekitaran dua setengah jam an kalo dirata-rata. Jadi, apa yang terjadi jika gue sakitnya sepuluh? Sepuluh jam?  Berapa lama luka gue? Kemampuan ilmu matematika sederhana mungkin gak bisa memecahkan berapa lama luka gue, apa lagi kalo kalian masih anak SD apa lagi SMP dan anak-anak SMA aja mungkin bisa nangis kalo ini soal keluar di Ujian Nasional. Tapi gue udah tanya pertanyaan ini ke anak TK dan mereka semua bisa nyelesain soal ini tanpa mikir. Survei gue telah membuktika…

For Sure,

Kill me, heal me. I just need one person stay and who'll be my reason to heal mine. Otherwise, it'll be easy to ask 'kill me' :')