Langsung ke konten utama

6 November 2022


“Kau sudah bangun?”
Suara itu ..  sepertinya aku mengenalnya.
Aku mencoba membuka mataku. Rasanya berat sekali tapi aku tetap membukanya secara perlahan. Saat mataku terbuka pandangan ku kabur. Aku menyipitkan mataku hingga akhirnya mataku benar-benar bisa melihat secara jelas.
Aku mencari suara yang tadi ku dengar. Ternyata suara itu berasal dari seseorang di sebelah ku. Hei, tunggu tapi siapa itu?
Sejak ia mengatakan kalimat pertamanya kepada ku tadi, aku sudah mengenal suaranya. Itu suara yang tidak asing bagiku, suara itu yang selalu hadir dalam mimpiku. Hanya dalam mimpi, tetapi hari ini suara itu nyata.
Aku mengarahkan pandangan mataku ke arahnya. Tanpa aku minta, mataku dengan sendirinya membuka secara lebar-lebar. Jantungku berdetak seolah akan lepas. Wajah itu, tidak mungkin ia di sini. Ku pejamkan kembali mataku. Aku pikir ini semua hanya mimpi.
“Hei, kenapa kau memejamkan matamu lagi?” tanyanya lembut.
Aku diam. Aku merasakan hawa aneh di sekitar ku. Aku merasakan sesuatu yang berbeda dari dalam diriku sendiri. Aku tetap memejamkan mata tetapi sepertinya ini bukan mimpi. Aku membuka kembali mataku. Ia masih tetap di sampingku.
Ia tersenyum. Senyum yang ku rasa baru kali ini ia berikan khusus untukku. Wajahnya terlihat manis. Wajah itu, sebelumnya aku hanya bisa melihatnya di alam mimpi ku, tetapi ini sepertinya nyata.
“Apa kabar?”
Senyum itu masih saja terukir diwajahnya.
“Aku .. aku baik.”
Sebenarnya ini mimpi atau bukan? Apa dia benar-benar di sini menemaniku? Aku takut ini mimpi. Jika ini benar-benar mimpi, aku tidak ingin terbangun. Aku ingin tetap terjaga dalam mimpiku agar aku bisa tetap melihatnya.
Dia masih saja tersenyum. Dia mulai bergerak mengambil sesuatu di meja samping ranjangku. Aku terus menatapnya.
“Sarapan dulu ne, biar aku suapi.” Katanya sambil menunjukan semangkuk bubur yang tadi diambilnya dari meja di samping ranjangku.
Aku menganggukan kepalaku. Menurut saja dengan apa yang ia ucapkan.
Aku mencubit lengan kiri ku dengan tangan kanan ku. Aku benar-benar merasakan sakit. Jadi ini semua nyata?
“Kenapa kau melukai dirimu sendiri eoh?”
Ternyata dia memperhatikan apa yang aku lakukan.
“Aku .. aku hanya ingin tau, apakah ini mimpi atau bukan.” Jawabku.
Dia meletakkan mangkuk bubur ku dan menatapku dalam. Dia kembali tersenyum.
“Kau tidak bermimpi. Apa kau terkejut?”
“Jeongmal?” (benarkah?) tanyaku tertegun.
“Ne, (iya) aku terkejut.” Jawabku setelah itu.
Sepertinya, dia benar-benar murah senyum. Kali ini dia memberikan senyum manisnya itu lagi kepadaku.
“Hmmm … baru seperti ini saja kau sudah terkejut? Itu berarti kau harus menyiapkan dirimu untuk yang lebih dari ini. Bisa-bisa jantungmu lepas karena terkejut.”
Kata-katanya kali ini berhasil memancing rasa ingin tahu ku. Aku mengerutkan dahi ku. Dia tertawa menertawaiku. Sepertinya ia benar-benar senang melihatku bingung.
“Waeyo?” (Kenapa?) tanyaku.
“”Gwenchana.” (tidak apa-apa.)
Tiba-tiba terdengar suara pintu membuka. Dalam waktu yang sama mata kami tertuju ke arah pintu. Dan sepertinya mataku benar-benar membulat dua kali lipat dari semula. Donghae oppa, yang sedari tadi berada di sampingku, kembali menatapku. Ia kembali tersenyum. Dia berdiri menghampiri teman-temannya.
Mereka tersenyum ke arahku. Ini benar-benar seperti mimpi dan aku tidak ingin terbangun.
“Saengil Chukhamnida!!!” (Selamat ulang tahun) ucap mereka secara bersamaan.
Mereka berjalan ke arah ranjangku dan mengelilinginya.
“Ini kejutan ke dua.” Kata Donghae oppa.
“Ah, apa kau menganggap ini kejutan?” tanya Kyuhyun oppa, salah satu bagian dari mereka.
“Ne .. apa ini mimpi?” tanyaku.
“Tidak, ini nyata. Kami hanya datang mengucapkan selamat ulang tahun dengan membawa beberapa makanan saja. Maafkan kami. Karena kau sedang sakit, jadi kami tidak bisa mengajak mu pergi merayakan ulang tahun kami bersama.” Kali ini Leeteuk oppa, sang leader bagi mereka, yang menjawab.
“Tidak perlu, oppa. Ini saja sudah cukup membuatku senang. Maaf aku merepotkan kalian. Happy birthday too, Super Junior.”
Ya, sebenarnya yang ulang tahun ku bersamaan dengan ulang tahun Super Junior, group favoritku. Saat ini aku berada di Korea Selatan. Aku ingin sekali merayakan ulang tahun mereka bersama-sama di negara ini. Akan tetapi Tuhan memberikan ku sakit sehingga aku tidak bisa merayakan ulang tahun mereka bersama ELF yang lainnya.
Tetapi, tidak apa-apa. Ini merupakan kejutan yang tidak pernah aku bayangkan. Seharusnya aku yang mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan kejutan untuk mereka, tetapi mereka malah melakukannya padaku. Saat ini aku benar-benar merasakan betapa indahnya menjadi ELF dan betapa bahagianya mendukung mereka hingga akhir.

“Saranghae Super Junior.”

I still can’t saying that
I’m falling head over, tingling to say that word
Love you more than anyone else
Only you and me and me, and me, and me
I’m really happy in this moment
Really thank you for coming to me
Thanks for the one who loves me
Only you and me and me, and me, exactly you,

ajig kkaji mot haejun geu mal.
mog-i meyeosikeunhae geu mal
nuguboda saranghae.
ojig neowa na nannana nannana nanna
i sungan-i haengbogkae jeongmal.
naege waseo gomawo jeongmal.
naleul da jul han saram
ojig neowa na nannana nannana balo neo

Pos populer dari blog ini

Epic Dream

Mimpi. Mereka bilang, jika kau bermimpi tentang seseorang, maka jiwamu sedang bertemu dengan jiwa seseorang yang kau mimpikan. Sebagian lainnya mengatakan, jika kau memimpikan seseorang, itu pertanda seseorang yang kau mimpikan itu sedang memikirkanmu sebelum ia terlelap.

Banyak sekali yang mereka katakan tentang mimpi. Bermimpi dan dimimpikan. Bagiku, mimpi adalah sebuah perjalanan bersejarah yang tidak pernah bisa aku ungkapkan secara menyeluruh. Tidak bisa aku siratkan maksudnya meskipun aku berkata secara gamblang. Bagiku, cerita-cerita itu tetap terkubur dalam bersama perasaanku, meskipun aku telah membaginya. 
Mimpi seolah menjadi jejak, menjadi potongan-potongan kisah kita yang belum pernah terwujud. Belum. Dan aku tidak pernah tau, mungkinkah ini akan terwujud? Mungkinkah? Sedang kita terpisah jarak bermil-mil jauhnya. Terpisah rentang waktu yang juga mendukung jarak pisah kita. Juga, Haru, semua seolah mendukung jarak yang entah jauh, entah sangat dekat.
Mimpi. Bagaimana kita…

Hujan

Hujan. Ini bukan tentang apa yang kamu suka, bukan juga tentang apa yang aku suka.  Tapi, ini ini tentang apa yang kita suka. Hujan. Kau tau? Aku tidak membenci hujan, meski hujan membuatku basah kuyub. Aku tidak juga membenci hujan, meski kadang kedatangannya bersama petir yang aku takuti.
Aku menyukai hujan jauh sebelum aku mengenalmu. Bagiku, hujan itu seperti rintikkan semangat yang turun untuk terkabulnya harapan dan cita-citaku. Ya, semangatku bukan teriknya matahari. Tapi, hujan yang turun dengan damainya ke tanah atau jalanan yang aku tapaki.
Aku masih menyukai hujan hingga aku mengenalmu dan perlahan memahami.  Perlahan paham jika hujan juga sudah merebut tempat di hatimu.
Aku tidak tau tentang apa yang membuatmu menyukai hujan.  Aku tidak tau tentang apa yang kau sukai dari hujan.  Aku masih tidak tau tentang 'hujan dan kamu'.
Aku tidak pernah membenci hujan. Sejak saat itu. Sejak aku pertama kali jatuh cinta pada gelapnya awan. Tetap tidak, saat aku mengenalmu. Dan …

Sweetest Story Ever Written

Kopi itu pahit. Dan romantismu itu seperti kopi. Iya, hanya orang-orang yang memahaminya yang bisa merasakan manisnya. Ya, seperti itu lah kamu.

Kamu, pangeran yang bahkan tidak pernah terbayangkan olehku bagaimana kita bisa saling bertemu. Kamu, orang yang membuat diriku terus mengulang alur dari pengenalan hingga alur kita di saat ini. Kamu, orang yang mengajariku untuk bersabar melihat klimaks dari cerita kita bersama-sama hingga bagaimana akhir dari cerita ini nanti akan ditulis. Kamu... yang berhasil menyita seluruh kekaguman yang pernah aku berikan pada orang lain sebelummu. Kamu... yang pada akhirnya membuatku percaya jika masih ada pangeran baik-baik yang akan menghargai seorang putri  setulus ia menghargai ratunya, ibunya. Tidak seperti kebanyakan yang hanya datang  di saat manis dan pergi di kala bosan. Tapi kamu... mampu mengubah semua pandanganku tentang itu. Kamu yang berani memberi keputusan tapi tidak di atas janji. Kamu yang menyadarkanku bagaimana indahnya rasa suci y…