Langsung ke konten utama

Lights is what I like

Ni Hao,

Kali ini saya ingin share tentang apa yang saya suka nih,

Semua orang pasti punya sesuatu yang disukai kan? Tentu saja. Itu yang membuat kita bahagia di tengah kesedihan.

Nah, salah satu yang saya suka adalah cahaya atau sinar. Cahaya itu sesuatu yang menyala. Selalu bersinar dan indah. Saya suka sekali cahaya. Baik cahaya lampu, cahaya lilin atau bahkan cahaya kunang-kunang.
Semua berawal saat saya sedang membutuhkan banyak motivasi. Disaat-saat tertentu saya seringkali merasa tertekan atau merasa dikejar-kejar sesuatu yang bernama waktu. Saya akui, dulu saya memang seseorang yang mungkin sulit untuk memanfaatkan waktu dengan baik. Mungkin itu yang membuat saya tertekan. Tetapi, saat ini saya sedang memperbaiki management waktu saya dan Alhamdulillah mulai merubah sikap boros waktu saya. 

Disaat tertekan saya seringkali mencari motivasi, motivasi yang saya bangun dari diri saya sendiri dan dari beberapa motivator atau beberapa idola saya. Saya sering diam di dalam kamar dengan cahaya lampu yang redup dari lampu di meja belajar, bermimpi tentang apa pun yang saya ingin lakukan di masa depan. Satu hal yang selalu terlintas dalam pikiran adalah cahaya terang dari lampu-lampu kota. Saya selalu ingin pergi ke tempat yang berbeda, di kota yang berbeda, dan di negara yang berbeda, dan saya menyukai suasana malam. Karena itu, saya selalu ingin berjalan-jalan di tempat yang berbeda, di kota yang berbeda, dan di negara yang berbeda itu pada malam hari. Saat membayangkan semuanya, saya menutup mata dan membukanya kembali setelahnya. Senyum selalu ada setelah membayangkan itu. 

Saya menatap lampu di meja belajar saya. Menikmati cahaya redup yang terpancar. Cahaya itu terasa indah dan menenangkan. Rasa tertekan yang tadinya terasa itu hilang. Saya jadi bisa melakukan semua tugas dengan perasaan senang dan tenang, bukan lagi perasaan tertekan. Sejak saat itulah saya menyukai cahaya. Cahaya yang juga saya harapkan dapat terpancar dari dalam diri saya sendiri. Dan saya berharap bisa seperti cahaya yang menerangi kegelapan. 

Cahaya, itu yang aku suka. Bagaimana dengan kalian? Pasti punya benda atau sesuatu yang disuka juga kan?   Saya yakin setiap dari kita akan mempunyai sesuatu yang berbeda .. :)

"Jadilah seperti lilin yang rela dirinya terbakar demi menyinari kegelapan di sekitarnya, atau seperti kunang-kunang yang menghabiskan energinya demi setitik cahaya yang keluar dari tubuhnya untuk kegela

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I am story of my life Episode 1

Annyeong haseyo ^^
Selamat pagi/malam/siang/sore .. Di sini saya datang bersama teman saya yang bernama Alvian Octaviandi. Dia punya hobi menulis dan di bawah ini adalah karyanya. Silakan dibaca :D komentar, saran, kritik dipersilakan ^^
I am story of my life
Episode 1
CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA JIKA ADA KESAMAAN TOKOH, WATAK, SERTA ALUR CERITA YA MAAF NAMANYA JUGA ENGGAK SENGAJA
Ini berasal dari pengalaman hidup gue yang gak disengaja.


Awal cerita ini bermula ketika gue udah lahir kedunia ini. Kalau boleh gue mau ceritain asal-usul serta proses dari bapak gue yang suka sama ibu hingga mereka melakukan kemaksiatan itu. Tapi gue agaknya gak berani deh, soalnya kalau ntar adek gue baca ceritanya terus dia tanya, ”kakak, adek juga dibuatnya kayak gitu juga enggak?”. Gue jadi bingung ntar kalok gue bilang “sama”, terus dia bilang kita kok beda jauh ya, mungkin kakak produk gagal ya? Kok cantikan adeknya? Haduh, tapi gue juga takut kalau ntar gue jawab “beda”, padahalkan kalau cewek sama co…

I am story of my life Episode 3

I am story of my life Episode 3 Garing-garing, galau-galau, modus-modus, emang dasar jomblo. Tapi emang sih gue akui jomblo itu emang membahagiankan hidup gue, tapi... kadang-kadang hidup gue ada yang terasa kurang. Kurang miris dikit, diiris pake pisau apa diiris pake gergaji gitu. Akhir-akhir detik ini gue sering merasa sakit, iya sih sakitnya gak seberapa tapi luka nya bisa sampe tiga-empat  jam, kalian fikir aja coba pake kemampuan ilmu matematika otak masing-masing, jika gue sakitnya dua detik, lukanya bisa sampai sekitaran dua setengah jam an kalo dirata-rata. Jadi, apa yang terjadi jika gue sakitnya sepuluh? Sepuluh jam?  Berapa lama luka gue? Kemampuan ilmu matematika sederhana mungkin gak bisa memecahkan berapa lama luka gue, apa lagi kalo kalian masih anak SD apa lagi SMP dan anak-anak SMA aja mungkin bisa nangis kalo ini soal keluar di Ujian Nasional. Tapi gue udah tanya pertanyaan ini ke anak TK dan mereka semua bisa nyelesain soal ini tanpa mikir. Survei gue telah membuktika…

For Sure,

Kill me, heal me. I just need one person stay and who'll be my reason to heal mine. Otherwise, it'll be easy to ask 'kill me' :')